Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Custom CSS

Cerpen Kehidupan : Kasih Seorang Kakak


Di pagi yang cerah, tampak rumah tua nan kecil di tengah sawah. Rumah itu milik seorang anak yang masih berusia 15 tahun. Ela, sapaan akrab dari bocah yang masih duduk di bangku SMP kelas 9. Wanita yang berbadan mungil ini tinggal di rumah sempit bersama adiknya. Ibu dan ayah mereka terlibat kecelakaan di Tol Cilandak yang mengakibatkan kedua sepasang kekasih tersebut harus berpulang ke Rahmatullah. Waktu itu Ela berusia 12 tahun, sedangkan Fitri yang merupakan adik kandung Ela usianya masih 8 tahun.

Kepergian orang yang paling disayangi tentu sangat menyayat hati. Ela harus berusaha keras untuk menyambung hidup dan mengurus adiknya yang masih kecil.
Siang itu, Ela telah usai belajar di sekolah. Ia harus bergegas menyiapkan makan untuk adik tercinta. Fitri yang sedari tadi menunggu kakanya pulang, tengah bosan karena buku gambar yang ia miliki basah terkena air. Fitri sangat pandai menggambar, bahkan di usianya yang kini menginjak 11 tahun, ia berhasil menjadi juara menggambar tingkat SD se-kabupaten. Torehan cemerlang ini membuat nama Fitri dikenal luas dan mendapat penghargaan.

“Mba, buku gambarku basah” ucap fitri dengan muka lusuh pada kakaknya.

“Yah, kamu si tidak hati-hati”

“Lah kan tidak sengaja, gimana dong mba? Masa aku tak bisa menggambar lagi?” fitri memelas.

“Ya sudah, besok mba carikan buku gambar yang baru. Kamu jangan sedih gitu dong” Ela membujuk adiknya agar tidak Sedih lagi.

Fitri tersenyum mendengar ucapan kakaknya itu. Dengan wajah gembira, fitri memeluk kakaknya sembari berkata “aku sayang kakak, tolong jangan tinggalkan fitri sendirian ya kak”

Mendengar ucapan adiknya itu, Ela meneteskan air matanya, tak kuasa menyaksikan adik tercintanya sampai seperti itu. Kasih sayang orang tua yang dirindukan berganti dengan kasih seorang kakak yang sangat baik. Fitri beruntung memiliki kakak yang kuat menghadapi semua beban hidup. Disaat anak seusia Ela masih gemar bermain, jalan ke sana kemari, dan pergi hura-hura, Ela justru harus disibukkan mengurus Fitri seorang diri. Terlebih lagi Ela harus bekerja paruh waktu, ketika setelah asar hingga isya.
Ela bekerja di warung makan lamongan.

Setiap harinya memang selalu ramai, bahkan jika pengunjung membludak, Ela bisa pulang sampai pukul sembilan. Untunglah setelah magrib, fitri mengaji di musola. Jadi Ela tidak terlalu khawatir karena terkadang pulang ngaji bisa sampai pukul 20:30.

Sore itu Ela tengah bersiap-siap berangkat bekerja. Fitri yang dari tadi menyapu halaman rumah mendatangi kakaknya.

“Kak”
“Iya fit, kenapa?”
“Kakak ingat tidak, besok hari apa?”
“Emmm... Besok hari Minggu kan?”
“Dih, hari lahir adikmu ini kau lupakan?”
“Hehe, kaka becanda fit”
“Becandanya jelek, hem”
“Haha ya jangan manyun gutu lah, jadi kayak bebek kamu tuh”
“Biarin, biar kakak kudu tanggung jawab”
“Lahh?? Kakak tanggung jawab gimana toh?”
“Ya pokoknya di hari ulangtahunku besok, aku minta sesuatu sama kakak”
“Sesuatu apaan?”
“Aku pengin es krim sama kueh kak, boleh tidak? Sekali doang pas ulang tahunku besok. Kedepannya gak minta apa apa lagi deh, yah?” fitri memelas.
“Iya nanti kakak usahakan ya” sembari melontarkan senyum dan memegang kepala adik tercintanya.
“Yyeeeeeyyyyy makasih kak” Teriak fitri penuh kegembiraan.

Dalam hati, Ela tak kuasa melihat adiknya sedih. Namun dia juga belum punya uang untuk beli es krim dan roti. Hal ini menjadi membingungkan Ela, terlebih ia belum gajian. Sontak hal ini membuat Ela makin gelisah. Dalam hatinya ia berkata apakah sanggup memberikan kado spesial yang diminta adiknya itu. Andaikan saja kedua orangtuanya masih ada, pasti semua tidak sesusah ini.

Ela selalu percaya, kalau tuhan takan memberikan cobaan di luar kemampuan hambanya. Ia hanya bisa pasrah sembari berdoa, semoga tuhan menolongnya dari kesusahan dan kegelisahan ini.
Sesampainya di tempat kerja, Ela langsung ikut membantu masak dan melayani pelanggan. Jamilah sang Pemilik warung sebenarnya tak tega melihat anak kecil seusia Ela harus bekerja menghidupi dirinya dan adiknya. Sering kali Jamilah memberikan makanan kepada Ela ketika Ela selesai kerja.

Dari kejauhan, tampak sorot lampu mobil menerangi warung bu Jamilah. Ela sedikit kaget, apakah pengendara mobil tersebut akan mampir ke warung? Dan benar saja tak lama kemudian, seorang pria bertubuh kekar dan berpakaian rapi bak seorang pejabat negara keluar dari dalam mobil.
“Permisi bu, ada bebek goreng tidak ya?” Tanya pemilik mobil sembari menatap jam tangannya.

“Ada pak, mau berapa ya”
“Saya pesan dua porsi ya bu”
“Baik pak, sebentar ya”
“Iya bu”
Sembari menunggu pesanannya selesai, pria itu terus terpaku pada jam tangannya. Sepertinya pria itu memang sedang buru-buru sekali. Karena memang waktu menunjukkan pukul 18:20, waktu yang paling sering pegawai kantoran bersliweran di jalan.

“Ini pak”
“Oh iya, berapa bu?”
“30 ribu pak”
“Ini bu” mengeluarkan selembaran uang berwarna biru.
“Terima kasih pak” ucap bu Jamilah sembari memberikan kembalian.
Pria itu langsung pergi menuju mobilnya, tanpa sadar pria tersebut meninggalkan selembaran kertas yang berisi hasil meeting.

“Loh bu, ini punya orang itu apa ya?” Ucap Ela sembari menatap kertas itu.
“Sepertinya iya El, coba kamu antarkan deh”
Tanpa pikir panjang, Ela bergegas menuju mobil yang dikendarai pria bertubuh besar tadi.
“Pakk.!!! Tunggu!!!!” Ela berteriak mengejar mobil yang mulai meninggalkan tempat parkir.
Untunglah dari spion mobil, pria itu menyadari keberadaan Ela. Ia kemudian mengehentikan laju kendaraannya dan keluar dari mobil.

“Ada apa dik” tanya pria itu.
“Ini punya bapak ketinggalan” sambil mengambil nafas ya g terengah-engah, ela menyodorkan kertas putih milik pria tersebut.
“Waah terima kasih ya dik, untung ada kamu, kalau tidak bisa hilang nih catatan”
“Hehe sama-sama pak”
“Oh iya, nih ada sedikit rezeki untuk kamu”  Pria itu menyodorkan uang 20 ribu, sisa kembalian dari membeli bebek goreng tadi.

“Jangan begitu pak, saya ikhlas menolong, bukan mengharap imbalan”
“Sudah terima saja” pria itu meraih tangan Ela, dan memberinya uang tadi.
“Kalau begitu terima kasih ya pak”
“Sama-sama dek” pria tersebut langsung tancap gas pergi meninggalkan Ela.

Senangnya bukan main, Ela sekarang tahu besok akan membelikan apa untuk adiknya itu. Dengan uang 20 ribu, ia bisa memberikan es krim dan kueh yang diinginkan adiknya. Ya walau sederhana, tapi yang penting maknanya lah.
Dengan penuh senyum Ela terus bekerja. Sembari memikirkan hari esok yang akan beli  Es krim dan roti untuk adiknya.

Post a Comment for "Cerpen Kehidupan : Kasih Seorang Kakak"