Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Custom CSS

Contoh Essay Tentang Penurunan Moral Generasi Emas Indonesia


Dewasa ini perkembangan teknologi semakin meningkat, salah satunya pada bidang elektronik seperti Televisi. Hampir setiap rumah penduduk Indonesia memiliki Televisi, entah itu sebagai hiburan keluarga atau hanya mencari informasi / berita terkini yang dirasa penting. Jika televisi hanya ditonton untuk mencari informasi terbaru, maka hal demikian merupakan hal yang positif. Namun bagaimana jika televisi hanya ditonton untuk hiburan semata? Wah pasti sangat merugikan ya. Terlebih lagi kualitas dari tayangan di Televisi kurang begitu baik untuk kita tonton.

Banyak acara televisi yang hanya mencari ratting tinggi saja. Ratting tinggi tentu didapat dengan tayangan yang menghibur. Untuk tayangan yang menghibur sering Mengesampingkan kualitas isi dan kelayakan untuk di tonton. Misalkan saja, sekarang banyak kita jumpai sinetron alay atau acara reality show yang kurang pantas dipertontonkan.

Parahnya lagi, yang banyak menonton acara-acara tersebut adalah anak-anak. Hal ini tentu bisa berdampak buruk pada perkembangannya. Mental dan perilakunya terkadang sering meniru adegan yang ada di sinetron. Dampaknya apa? Anak jaman sekarang jadi dewasa sebelum waktunya, secara fisik mereka terlihat dewasa, namun secara psikis masih seperti anak-anak.

Hilangnya Tontonan Untuk Anak
Kalian tahu? Tontonan anak zaman dulu dengan sekarang sangat berbeda? Kalau dulu mungkin seorang anak sering menonton acara-acara anime atau kartun. Kartun atau Anime sekarang sudah hilang atau jarang kita temui. Padahal, dengan adanya anime atau kartun seorang anak bisa berimajinasi membayangkan dirinya sebagai tokoh utama dalam kartun tersebut. Nah imajinasi yang seprti ini yang perlu dibangun dari kecil. Sebenarnya anime dan kartun tidak semuanya mengandung unsur negatif. Ada pesan-pesan moral yang disampaikan melalui anime, misalnya saja pada anime Naruto yang mengajarkan mengenai persahabatan dan tekad untuk tidak menyerah dalam meraih mimpi.

Menonton anime tidak masalah, selagi yang ditampilkan masih dalam batas wajar. Kalau ditonton bersama ayah atau ibu kemudian mereka memberikan masukkan kepada sang anak mengenai pelajaran yang diambil dari film tersebut dan arahan kepada anak, bisa saja sang anak mampu berfikir menerapkannya dalam kehidupan. Ia bisa menjadi anak yang baik dengan temannya, tidak nakal, dan tentu saja menghormati orang yang lebih tua.
Dari pada memberikan tontonan yang tidak layak seperti percintaan, adegan berkelahi secara nyata, dan acara-acara alay lainnya yang berdampak pada berkembangan anak, lebih baik memberi tontonan yang sesuai dengan usianya. Jangan sampai anak kita menjadi dewasa sebelum waktunya gara-gara sebuah tontonan.

Tergantikannya tontonan anak dengan sinetron Alay

Anak-anak zaman dulu mungkin sering mendapatkan tontonan yang layak bagi mereka ketika hari libur tiba. Ya betul sekali, setiap minggu dari pagi hingga siang banyak terdapat acara-acara untuk anak-anak. Tentu hal ini menjadi sebuah hal yang positif, karena rata-rata tontonan untuk anak bercerita mengenai persahabatan dan kebersamaan. Adapun hal-hal yang diluar dari akal manusia bermaksud untuk membangkitkan imajinasi dari anak.

Sekarang ini tontonan yang layak untuk anak malah semakin menyusut. Dampak dari penyusutan ini membuat anak tidak punya pilihan lain, selain menonton acara-acara yang seharusnya belum di tontonnya. Kita lihat saja di channel tv sekarang, rata-rata isinya sinetron yang kurang mendidik dan adara alay yang membuat generasi muda jadi ikut-ikutan seperti yang dilakukan di sinetron.

Peralihan dari tayangan kartun menjadi sinetron justru banyak yang kurang setuju. Warganet atau netizen yang memakai media sosial juga banyak menyayangkan hilangnya kartun sebagai hiburan anak. Mereka beranggapan bahwa tidak selamanya kartun selalu berbahaya, justru sinetron alay dan acara alay sekarang yang jelas-jelas mempertontonkan aadega perkelahian, ttonjok-tonjokka, adegan pelukkan hingga ciuman harus di hapus. Ini merusak otak anak bangsa.

Anak-anak yang menyaksikan adegan tak senonoh demikian akan berpikiran bahwa hal semacam itu menjadi hal yang biasa dan wajar-wajar saja. Dampaknya? Tentu saja anak-anak akan meniru hal demikian dan generasi bangsa Indonesia akan mengalami krisis moral.

Krisis Moral Generasi Bangsa

Kita pasti sering melihat atau bahkan merasakan sendiri bagaimana moral generasi bangsa sekarang ini. Generasi bangsa yang didamba malah Memprihatinkan moralnya. Tak jarang ada saja siswa yang melawan gurunya, bahkan baru-baru ini ada video viral yang beredar di media sosial mengenai siswa yang mengejek dan mempermainkan gurunya yang sudah lanjut usia. Tak ada rasa bersalah sedikitpun dari pancaran wajah siswa.

Hal yang seperti ini terkadang bisa menjadi sumbu bagi siswa-siswi yang lain bahwa melakukan hal demikian biasa saja dan wajar saja. Tentu kalau dibiarkan saja bisa menimbulkan kekacauan dan penyimpangan pada diri siswa. Krisis moral pada siswa tentu bisa disebabkan oleh banyak faktor salah satunya adalah tayangan yang tidak mendidik.

 “TONTONAN” siswa jaman sekarang lebih banyak mengarah pada pelemahan mental dan moral. Sebagai contoh bisa kita lihat sinetron yang menampilkan adegan vulgar, perkelahian, dan bahkan tingkah yang alay sekalipun. Siswa yang menonton tayangan seperti ini pasti jadi ikut-ikutan, meniru gaya, tampilan, dan tindakan yang dilakukan pemeran sinetron. Sangat memprihatinkan memang melihat generasi bangsa tercabik-cabik oleh tayangan yang tidak mendidik.

Banyak yang harus kita lakukan untuk membenahi semua ini. Salah satunya memberikan tontonan yang layak pada anak. Dengan diberikannya tontonan yang sesuai dengan usianya maka sang anak pasti akan berimajinasi. Proses imajinasi ini yang sangat baik untuk perkembangan mental dan otak anak. Daya pikir seorang anak makin

Jadi pada intinya, tayangan yang ditonton oleh anak akan mempengaruhi mental dan daya pikirnya. Sang anak akan meniru apa yang telah ditontonnya.

Post a Comment for "Contoh Essay Tentang Penurunan Moral Generasi Emas Indonesia"