Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Custom CSS

Cerpen: Panik dan Keringat Dingin pada Saat Bimbingan Skripsi

Jam berdering menunjukkan pukul 04:15 pagi. Aku segera beranjak dari ranjang untuk membasuh anggota badan dengan wudhu. Panggilan yang datang dari mashid menggema di hati dan telinga. 

Aku berjalan menuju surau dekat rumah. Seperti biasa, masjid dipenuhi oleh aki-aki. Yang dulunya juga pernah jadi akhi. Ahh sudah lah, mungkin sekarang ini akhi sedang bercengkrama dengan guling yang setia menemaninya. 

Kembali dari surau, aku bergegas memberi makan peliharaan ku. Aku memiliki kelinci yang setiap hari merengek minta makan. Kelinciku ada yang berukuran besar, orang-orang menyebutnya dengan kelinci New Zealand. Aku juga memiliki kelinci berukuran sedang, namun dibekali bulu super halus nan lembut dan warna yang menarik. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan kelinci Rex Karpet.

Biasanya aku memberi mereka ampas tahu untuk pakan pagi. Sore harinya diberi pelet. Namun karena stok ampas yang habis, aku hanya memberi mereka pelet dan rumput hijau. 


Selepas memberi makan kelinci, aku beranjak mandi. Menyegarkan badan dan pikiran dengan aliran air mengalir mengalir langsung dari gunung. Rasa dingin melilit tubuh, namun terasa segar karena air langsung dari sumber pegunungan.

Sarapan pagi tak pernah aku lupakan. Setiap pagi aku harus sarapan untuk menghindari penyakit yang menyerang. Di sela-sela nasi enggan mendarat ke mulut ibuku bertanya.

"Hari ini kamu berangkat jaf?" 
"Iya bu"
"Oo ya sudah hati-hati di jalan ya"
"Nggih bu"

Percakapan yang singkat dengan ibuku. Dan aku berangkat ke kampus pukul 6 pagi. 

Sesampainya di kampus pukul 07:00 pagi, aku bergegas untuk mencari tempat print-printan. Aku akan bimbingan skripsi dengan dosen pembimbing ku pukul 09:00.

"Waduhhh ngalamat.!! Belum pada buka?!" Cletuk dalam batiniu.

"Ahh coba tek cari tempat lain, siapa tahu ada tempat print-printan yang buka"

Aku terus mencari, keliling ke sana ke mari. Namun yang kutemukan hanya pintu yang dikunci dengan rapat.

"Adduuuhhhh gimana iki gusti..!!" Aku mulai panik, karena waktu menunjukkan pukul 07:00.

"Apa bilang saja nanti ya ke dosen, kalau aku sudah keliling tapi ga ada yang buka"

"Ahh tapi ga sopan banget, masa ia cuma menyodorkan file dan minta maaf, padahal aku sendiri yang meminta bimbingan"

Pikiranku kacau. Batinku gugup, aku benar-benar merasa bingung harus bagaimana. Sampai akhirnya aku pergi ke Purbalingga untuk mencari tempat print-printan yang buka.

Alhamdulillah, ada yang buka. Walaupun waktu sudah melebihi jam 08:00. Aku mencoba memperbaiki file skripsi yang masih berantakan. Maklum saja aku mengerjakan skripsi menggunakan HP.

"Bodo amat..!!! Yang telat sedikit ga papa lah, yang penting ini bisa selesai." Pikirku.

Aku terus mengedit sampai waktu menunjukkan 09:00. Sampai akhirnya temanku WA 

"Jaf kamu di mana?" 
"Aku masih ngeprint, tunggu sebentar lah." 
"Ya udh oke"

Keringat dingin membasahi tubuh ku. Aku bingung. Benar-benar bingung dan panik. Ya sudah lah aku rapikan beberapa saja. Dan aku putuskan untuk langsung print out.

Ketika print berlangsung aku baru sadar ternyata kertas yang digunakan bukan kertas A4. "Waduuuhhh mati aku" 

Aku semakin panik dan bingung. Tangan dan kaki gemeteran karena waktu sudah jam 09 lebih dan print salah kertas. Aku mencoba untuk tenang tapi malah kepikiran terus.

Di tengah-tengah ngeprint, ternyata printernya eror atau macet. Mampuss aku dibuat pusing seperti ini.

"Mas, ini kok macet ya?" Tanya ku pada petugasnya.
"Tunggu sebentar mas, wah kalo ini kayanya rusak mas. Ganti sebelah saja mulai dari awal"
"Waduuhhh mampus aku, padahal tinggal beberapa lembar lagi"
"Tinggal halaman berapa mas?"
"Dari halaman 50 sampai terakhir"

Waktu terus berjalan, masnya mencoba lagi siapa tahu bisa. Dengan sigap aku berujar padanya.

"Ehhh sampai situ aja dil mas ga papa, sisanya ga usah" aku panik bukan main, waktu sudah mencapai pukul 09:30 telat banget. 

Masnya hanya diam, dan menghitung berapa biaya yang harus aku keluarkan. Setelah selesai, aku langsung berangkat ke kampus lagi. Bukan main, motor yang ku tunggangi melaju dengan kencang. Aku sudah tak peduli lagi dengan kondisi jalan, yang penting cepat sampai. 

Sesampainya di sana, aku langsung menghampiri temanku yang sudah lama menunggu. 

"Maaf telat banget" sesalku
"Ga papa, yuh langsung temui saja"
"Baik lah, ehh tunggu" aku membuka pesan WhatsApp yang ternyata datang dari dosen pembimbing ku. 
"Mas, jadwal bimbingan kita undur pukul 10:00 ya." Isi pesan tersebut.

Owalaahhh, sudah setengah mati aku panik dan gemeteran. Kini malah diundur. Tapi Alhamdulillah juga, aku bisa merelekskan tubuh dan pikiran. Tapi aku juga masih khawatir karena kertas untuk ngeprint tadi bukan ukuran A4. Takut sekali jika nanti malah kena omel dan makin susah untuk semprop. 

Kami menunggu dan terus menunggu, hingga waktupun tiba, kami dipersilahkan masuk ruangan untuk bimbingan skripsi. 

"Mohon maaf pak, kertasnya salah. Nomor halaman juga belum ada dan masih berantakan" dengan nada rendah aku meminta maaf kepada dosen pembimbing.
"Oo ga papa, ini kan cuma buat bimbingan, yang penting kalau proposal atau skripsinya harus sesuai ketentuan."

Syukurlah, aku jadi lega karena dosenku baik. Kami berbincang dan berdiskusi mengenai apa yang kiranya memang harus dilakukan. 

Aku pulang dengan perasaan lega. Aku merasa senang karena Allah ternyata baik. Memberi rasa panik dan takut, tetapi menyiapkan rasa lembut di belakang. Aku bersyukur atas apa yang terjadi pada hari ini. 

Kisah di atas adalah kisah nyata yang saya alami sendiri. Pengalaman yang sangat luar biasa dan sangat berharga bagi hidup saya. Point yang ingin saya sampaikan adalah Allah maha baik dan bijaksana. Kita harus pandai mengambil nilai positif dari suatu kejadian agar kita peka dengan apa yang ditentukan olehNya.

Post a Comment for "Cerpen: Panik dan Keringat Dingin pada Saat Bimbingan Skripsi"