Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Custom CSS

Kisah nyata: Bertahan hidup di masa pandemi

Bertahan hidup di masa pandemi

Jafarull.com - Awal kemunculan covid-19, dunia usaha mendadak melambat. Pembatasan-pembatasan di berbagai sektor, membuat ekonomi dunia porak-poranda. Pelaku usaha banyak yang tumbang, gulung tikar, dan bangkrut. Sementara para pekerja, yah kalian pasti tahu, mereka mengalami PHK. 

Rasanya memang tak adil, ingin marah, dan ingin merasakan kehidupan yang normal kembali. Tapi apa daya, semua demi kesehatan manusia juga. Orang kecil menganggap orang yang mempunyai duit lebih mungkin akan survive di era pandemi. Orang besar juga memandang bahwa orang kecil biasanya memiliki imun tubuh yang kuat. Ahh rasanya jadi saling berburuk sangka saja. 

Bertahan hidup di masa pandemi
Bertahan hidup di masa pandemi

Perkenalkan, saya Muhamad Jafarull Afan. Panggil saja Jafar, Arul, atau Afan. Saya lulusan dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto wisuda pada Maret 2021. Istilah anak sekarang si lulusan jalur Corona (karena lulus di masa pandemi katanya). Sebelum wisuda, saya sudah mengirimkan CV ke beberapa perusahaan. Sampai saat ini (Agustus 2021) juga saya masih rutin mengirimkan CV ke berbagai tempat. Yahh maklum saja pengangguran, kegiatannya hanya mencari lowongan pekerjaan kemudian mengirimkan CV. 

Sebelum lulus, sebenarnya saya sudah mulai menjalankan usaha sampingan ternak kelinci. Memang belum besar si, tapi setidaknya bisa untuk jajan baso hehe. Saya memulai usaha ini pada awal 2018. Saat itu saya memelihara sepasang anak kelinci untuk dipelihara. Ketika pertengahan 2018, saya mulai memperbanyak jumlahnya dengan cara membeli indukan kelinci. 

Ketika tahun baru, biasanya banyak bakul atau tengkulak yang akan datang mengambil anakan kelinci. Lumayan sob, perekor bisa mencapai 20 hingga 25 ribu. Tak hanya saat tahun baru, ketika bulan puasa dan hari raya idul Fitri juga banyak yang mencari sapihan kelinci. Jadi momen tersebut memang sangat berarti banget. 

Memasuki awal tahun 2020, beeuuuhhh anakan kelinci yang biasanya ramai justru mengalami penurunan peminat. Saat itu mulai sepi, ya walaupun ada si yang narik anakan, tapi kan tidak sebanyak sebelum-sebelumnya. Ketika puasa dan lebaran 2020 juga penjualan kelinci turun drastis. Harga kelinci juga turun, terseok-seok sampai kelojotan. Di tahun tersebut saya mulai mengurangi jumlah ternak. Tadinya memelihara 10 indukan dengan siapan nyampe 3 ekor dan beberapa anakan. Sedikit demi sedikit saya kurangi, saya jual dengan harga yang murah. 

Pikir saya si "tak apa jual murah (di bawah harga standar), yang penting bisa buat beli pakan (ampas tahu) dan beban untuk memberi pakan ga terlalu berat". Dan seiring berjalannya waktu, akhirnya tersisa empat indukan dan beberapa siapan & anakan. Kelinci tersebut juga perlahan saya jual demi mencukupi kebutuhan operasional. Berat banget rasanya harus mengalami hal seperti ini, baru memulai usaha dan mulai melebarkan sayap malah kena pandemi. 

Pada awal 2021, saya sudah niat mau pensiun dari dunia perkelincian. Hingga akhirnya pada April 2021 saya telah menjual semua aset kelinci saya beserta tempat makan & dot nya. Jujur saja rasanya berat banget. Tapi kalau tidak seperti itu saya tidak punya duit. Aku juga ingin lebih fokus mencari pekerjaan pertamaku (setelah lulus kuliah) dan ingin lebih fokus ke dunia blogging. Kebetulan saya mulai ngeblog pada akhir 2019 sob. Yahh walaupun sampai sekarang belum juga menghasilkan duit, yang terpenting saya bisa mengekspresikan diri melalui tulisan. Saya juga merasa senang karena dengan menulis, otak saya bekerja dengan baik. Ketika memandang sebuah permasalahan juga bisa melihat dari berbagai sisi. 

Yahh selama saya masih mampu untuk menulis, saya akan menulis. Apapun itu, entah materi pelajaran, pembahasan soal, cerita, puisi, opini, dan lain sebagainya. Saya ingin bisa lebih bermanfaat bagi sesama, setidaknya bagi pengunjung blog ini. 

Ada hal menarik lagi nih, pada bulan Juni, saya kehabisan uang. Sementara aset yang saya miliki juga sudah hahis. Saat itu juga laptop yang saya gunakan rusak. Sumpah rasanya bingung banget, padahal laptop untuk nulis dan apply pekerjaan. Pada akhirnya saya nekat untuk menjual laptop tersebut. Karena sangat butuh banget ya ga apa lah dijual dengan harga murah. Toh saya juga dapet laptop tersebut dengan kondisi bekas, dari pada memperbaikinya mending dijual saja. 

Pada akhirnya, uang hasil jual laptop juga habis. Sumpah saya bingung harus bagaimana lagi. Tapi ya, inilah hidup, harus dilalui sebaik mungkin. Saya akan terus berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. 

Pandemi ini mengajarkan untuk hemat dan menabung / investasi. Bertahan hidup di masa pandemi memang sulit. Tapi lebih sulit lagi kalau kita menyerah tanpa perlawanan berarti. Tetap berjuang semampu kita. Tetap berjuang semaksimal mungkin. Hari ini sengasara, besok akan bahagia.

Terima kasih telah mendengarkan kisahku ini sobat. Jika kalian memiliki kisah yang menarik, silakan komen di bawah ya. Atau jika kalian ingin kisahnya dimuat di blog kami, silakan hubungi kami melalui menu contact di bawah.

Post a Comment for "Kisah nyata: Bertahan hidup di masa pandemi"